Bergabung Pelatihan Menulis di masa pandemi bersama para master dari PGRI
Pertemuan 2 :
Selasa, 28 April 2020
Waktu :
13.00-15.00 WIB
Pemateri : Dr.Paidi, .Pd, M.Tbt,
Kepala
SMKN 4 Bengkulu dan Ketua MKKS Provinsi Bengkulu
Topik :
Menulis Desain Pembelajaran Modern
Peresume : Beni Setyorini
Pengantar : Bapak Wijaya Kusumah
Bergabung
Pelatihan Menulis di masa pandemi bersama para master dari PGRI
Selasa lalu saya membaca flyer yang dibagikan di salah satu group WA, yang
isinya adalah adanya pelatihan menulis dan menerbitkan buku secara online,
GRATIS, berbonus sertifikat 40 jam pula, siapa tidak tertarik, tentu di masa
pandemi yang banyak orang bilang merupakan hari-hari yang menjenuhkan, opsi
melirik informasi ini sangatlah menarik. Seperti yang selalu saya yakini
"belajar tak mengenal usia dan masa, selama baik, nutrisi ilmu tentulah
menyehatkan fikiran kita, menyuburkan ide-ide segar yang bersemayam di
otak", saya putuskan untuk mencoba mengikutinya dengan bergabung di group Whatsup.
Pertama masuk di group saya sama sekali tidak mengenal nama-nama yang ada,
hanya ada satu nama yang menjadi tuan rumah yang saya kenal, meskipun via dunia
maya yang akrab di sapa Om Jay.
Om Jay menyampaikan sambutan awal dengan slogan yang langsung membangunkan
kesadaran "bahwasanya dalam belajar
harus sabar mengikuti apa kata pengajar, perlunya kita mengosongkan gelas kita
dan kesombongan kita, karena masih banyak yang ilmunya lebih tinggi daripada
kita".
Selanjutnya dibagikan jadwal 20 pertemuan, untuk minggu pertama yaitu
tanggal 27 - 31 April 2020, pukul 13.00 - 15.00 dengan matrix nama-nama nara
sumber, materi pelatihan dan blog nara sumber untuk seluruh peserta pelatihan.
Dengan niat ingin belajar dari para master di dunia pendidikan, kreasi, inovasi
dan juga karya-karya beliau mulailah saya pada pelatihan pertemuan pertama saya
yang sebetulnya sudah menginjak pada pertemuan ke-2.
Berikut ini adalah resume yang saya tulis selama pelatihan menulis online.
"Cara mendesain pembelajaran The Systematic Design of Instruction oleh Dick & Carey": Teknik dan pendekatan yang pemateri gunakan adalah mengacu pada tokoh fenomenal bidang desain pembelajaran yaitu Prof Dr. Atwi Suparman (mantan rektor UT) dan Dick & Carrey. Secara umum dalam mendesain pembelajaran dan sekaligus menghasilkan bahan pembelajaran secara ilmiah dapat diliat pada bagan yang dipaparkan dalam sebuah slide.
Secara umum Proses perancangan desain pembelajaran terdiri dari 11 langkah yang dapat di uraikan sebagai berikut:
• Langkah 1, kita perlu mendapatkan data dan informasi guna mendapatkan masukan dari siswa/pengguna atas materi2 yang dianggap sulit atau perlu dipelajari lebih lanjut.
• Langkah 2, Berdasarkan data yang di dapat dari langkah 1 selanjutnya kita perlu membuat identifikasi kebutuhan peserta didik terhadap mata pelajaran / bahan yang akan kita rancang.
• Langkah 3, Berdasarkan data langkah 2 selanjutnya kita mulai membuat analisis instruksional/pembelajaran mata pelajaran yang akan kita rancang.
• Langkah 4, Seorang perancang perlu mendapatkan gambaran karakteristik peserta didik yang akan menjadi target atau pemakai buku yang kita rancang.
• Langkah 5, Membuat rumusan tujuan instruksional khusus (penggunaan istilah instruksional disini berdasarkan sumber asli yg di karang oleh Dick & Carrey yaitu instructional).
• Langkah 6, Melakukan penyusunan TES.
• Langkah 7, Membuat perencanaan strategi instruksional/pembelajaran yang akan digunakan (dalam hal ini pemateri merancang pembelajaran secara blended learning).
• Langkah 8, Mengembangkan dan memilih bahan instruksional. Bahan pembelajaran yang dirancang dapat dibedakan menjadi 2 yaitu bahan tercetak dan bahan online. Dalam hal perancangan bahan pembelajaran (Buku) dapat digunakan teori Rothwel dan untuk bahan online bisa menggunakan teori hannafin)
• Langkah 9, setelah draft bahan tersedia (langkah 8) selanjutnya perlu dilakukan evaluasi formatif.
Evaluasi
formatif yang kita lakukan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
1. One-to-one expert dengan melibatkan 4 orang pakar (pakar Desain, pakar Media, pakar Materi, pakar bahasa);
2. One-to-one learner (melibatkan 3 orang siswa yang berasark dari siswa peringkat atas, menengah dan bawah);
3. Evaluasi Small group (melibatkan sekitar 9 siswa yang berasakl dari kelompok, menengah dan bawah);
4. Field trial yaitu tahap uji coba luas dengan melibatkan siswa sekitar 30 siswa yang berasal dari kelompokl Atas, menengah dan bawah.
Setiap tahapan mulai evaluasi one-to-one, evaluasi small group akan menghasilkan namanya draft bahan pembelajaran dan setelah field trial baru dinamakan prototipe bahan pembelajaran.
Khusus untuk langkah yang terakhir Evaluasi Sumatif sifatnya tidak harus dilakukan dalam proses desain pembelajaran karena harus dilakukan oleh pihak lain. Sedangkan untuk buku pembelajaran yang dirancang untuk keperluan penerbit bisanya pihak penerbit sudah mempunyai format/standar tertentu. Sehingga jika penulis ingin memasukkan buku agar bisa diterbitkan oleh penerbit maka format yg digunakan harus mengacu kepada format yang digunakan oleh penerbit.
1. One-to-one expert dengan melibatkan 4 orang pakar (pakar Desain, pakar Media, pakar Materi, pakar bahasa);
2. One-to-one learner (melibatkan 3 orang siswa yang berasark dari siswa peringkat atas, menengah dan bawah);
3. Evaluasi Small group (melibatkan sekitar 9 siswa yang berasakl dari kelompok, menengah dan bawah);
4. Field trial yaitu tahap uji coba luas dengan melibatkan siswa sekitar 30 siswa yang berasal dari kelompokl Atas, menengah dan bawah.
Setiap tahapan mulai evaluasi one-to-one, evaluasi small group akan menghasilkan namanya draft bahan pembelajaran dan setelah field trial baru dinamakan prototipe bahan pembelajaran.
Khusus untuk langkah yang terakhir Evaluasi Sumatif sifatnya tidak harus dilakukan dalam proses desain pembelajaran karena harus dilakukan oleh pihak lain. Sedangkan untuk buku pembelajaran yang dirancang untuk keperluan penerbit bisanya pihak penerbit sudah mempunyai format/standar tertentu. Sehingga jika penulis ingin memasukkan buku agar bisa diterbitkan oleh penerbit maka format yg digunakan harus mengacu kepada format yang digunakan oleh penerbit.
Kesimpulan:
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran BLISH (Blended Learning Berbasis Handphone) dapat menjadi sebuah terobosan yang dapat kita gunakan. Apabila kita ingin menerbitkan buku yang diterbitkan oleh penerbit tertentu, kita harus mengacu pada ketentuan format penerbit tersebut.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran BLISH (Blended Learning Berbasis Handphone) dapat menjadi sebuah terobosan yang dapat kita gunakan. Apabila kita ingin menerbitkan buku yang diterbitkan oleh penerbit tertentu, kita harus mengacu pada ketentuan format penerbit tersebut.
Comments
Post a Comment