Catatkan Sejarah Dengan 4R Ibu Farrah
RESUME
PELATIHAN MENULIS ONLINE GELOMBANG 10
Pertemuan 8 : Rabu, 6 Mei 2020
Waktu :
13.00-15.00 WIB
Pemateri :
Farrah Dina, MSc, Founder Tangga Edu
Topik : Terbitkan Bukumu Catatakan Sejarah
Peresume :
Beni Setyorini
Pengantar : Bapak Wijaya Kusumah
Pelatihan
yang sangat menarik kali dipaparkan oleh ibu Farrah Dina M.Sc. Ibu Farrah
adalah founder Tangga Edu, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan,
lulusan terbaik Institut Pertanian Bogor di tahun 2003 dan pernah mengenyam
pendidikan di di Tokyo Gakugei University, Jepang dan State University of New
York, College at Buffallo. Tema yang ia angkat kali ini adalah “Terbitkan Buku
Catatkan Sejarah”, kenapa tema ini diangkat alasannya adalah Decrates seorang
filsuf pernah mengatakan bahwa ‘membaca
buku sama dengan untuk berbicara dengan orang-orang bijak di masa lalu dan
pastinya setiap manusia ingin dikenang dalam sejarah,’ untuk itu apa yang
bisa kita tinggalkan adalah sebuah buku. Tentu meninggalkan buku adalah salah
satu jalan bagaimana pikiran kita, apa yang kita ungkapkan itu abadi hingga
sepanjang masa.
Masalahnya
membuat buku dan menerbitkan buku adalah dua hal yang berbeda, membuat buku
hingga dapat menerbitkan buku ke sebuah penerbit besar adalah sebuah akibat
dari sebuah karya yang baik tentunya. Tapi yang paling penting adalah bagaimana
kita menulis dan bagaimana kita menuangkan pikiran kita karena kita ingin
diingat sepanjang masa.
Bagaimana
kita membuat karya lalu mengasahnya, kemudian menjadi intan berlian yang
nantinya itu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dan pasti berakibat karya
kita bisa diterbitkan, tentu saja dengan cara 4R, yaitu Renjana, Rutin,
Review dan Ruang bagi pembaca.
Renjana
Apakah ‘renjana’ itu?
Renjana adalah passion. Passion itu adalah sesuatu yang amat
atau sangat menarik buat kita, sesuatu yang menjadi pemikiran, hal-hal yang
jika kita melakukannya kita merasa mudah, nyaman dan menyenangkan. Jadi mulailah
melakukan sesuatu dengan hal yang sesuai dengan ‘renjana’ kita. Jika ‘renjana’
kita novel, maka tulislah sesuatu yang cederung fiksi, jika kita menyukai
penelitian maka tulisalah sesuatu yang cenderung ilmiah. Jika kita menuliskan
sesuatu sesuai ‘renjana’, tentu saja semua ide akan mengalir dengan mudah,
sebaliknya jika sesuatu yang kita tulis itu bukan hal yang mudah bagi kita
tentu tulisan itu sering kali macet di jalan atau tidak dapat terselesaikan.
Jadi kita harus mampu menentukan apa ‘renjana’ kita.
Rutin
Rutin itu bukan hanya
rutin menulis, tetapi yang lebih penting lagi adalah rutin membaca. Dengan
rutin membaca akan menjadi sesuatu yang otomatis, sehingga kitapun akan terframe, apapun yang kita lihat, apa yang
kita alami, kita ingin menjadikannya sebuah bahan bacaan. Alhasil, dengan hal
itu kita termotivasi untuk menulis. Ketika kita membaca, banyak kantong-kantong
di kepala kita yang tentunya ingin kita keluarkan dalam bentuk tulisan, karena
dengan membaca kosakata dalam membaca tidak sama dengan kosakata lisan,
kosakata membaca berkecenderungan seperti kosakata menulis. Apapun genre bukunya usahakan kita baca, namun
apabila kita sibuk bisa membaca yang seusai genre
kita, barulah kita rutinkan untuk menulis. Rutinkan untuk menulis kapanpun dan
dimanapun. Perlu diingat bahwa penulis-penulis hebat itu selalu menyiapkan
waktu khusus dan tempat khusus untuk terus menulis, sehingga terframe dalam otaknya ketika dia ada di
waktu itu, dan tempat itu adalah waktu bagi dia mengeluarkan tulisannya.
Menulis harus kita rutinkan, salah satunya dengan merekam, menulis bank-bank
cerita dengan gawai atau recorder. Bank-bank cerita itu harus detail, makanya
perlu merekam waktu, tempat dan emosi dengan sangat baik. Ingatlah bahwa ‘orang yang memendam akan kalah dengan orang
yang mengungkapkan, dan orang yang menunggu akan kalah dengan orang yang
melakukan.’ Dengan rutinitas membaca dan menulis, kita akan memiliki
bank-bank kisah, bank-bank tokoh, bank-bank situasi dan bank-bank skenario yang
bisa digunakan menulis apa saja.
Review
Review adalah setelah kita punya
kumpulan tulisan, maka review-review-review,
proses terpanjang itu adalah pada review.
Jadi pada saat menulis pertama kali, tulis saja semua yang ingin ditulis, tidak
perlu diedit, tidak perlu dilihat lagi nama tokohnya, peristiwanya, logikanya, scenenya, alurnya. Tulis dulu, biarkan
tulisan kita mengalir begitu saja. Baru di tahap review inilah, kita lihat semuanya, kita lihat tokohnya, detailnya,
jika cerita non-fiksi kita lihat quote-quotenya,
kita lihat alur berpikirnya. Review
ini penting juga untuk melihat market kita, apakah tulisan kita termasuk
ilmiah, popular atau fiksi. Pada saat review, kita akan masuk pada tahap
ke-empat, yaitu ruang bagi pembaca.
Ruang
bagi Pembaca
Ketika
review, jangan jadikan review dari kita sudah cukup, pasti
tulisan kita terlihat sudah bagus, tapi yang terpenting itu adalah review dari pembaca yang kita tuju,
kalau buku kita anak-anak, makan pembacanya adalah anak-anak, kalau buku kita
untuk guru maka pembacanya adalah untuk guru dan apabila buku itu untuk orang
tua maka pembacanya adalah orang tua. ‘Ruang bagi pembaca’ artinya bukan
meminta mereka untuk membaca kemudian kita mendapatkan feedback positif, tetapi justru yang kita harapkan adalah feedback-feedback negatif, artinya apa
yang sebaiknya diperbaiki, apa yang mereka tidak suka, apa yang bagi mereka
sulit, apa yang tidak menarik, itu justru yang lebih penting, sehingga kemudian
kita memperbaiki. Walaupun ruang bagi pembaca ini jangan sampai menghilangkan
jati diri si penulis sendiri. Jadi ruang bagi pembaca itu sangat penting bagi
penulis. Penulis tidak artinya tanpa adanya pembaca, maka hadirnya pembaca
penting, oleh karena itu menshare tulisan
di media sosial, meminta keluarga kita, anak kita, dan murid kita untuk membaca
itu adalah hal yang penting karena seperti ada rasa kepuasan pada diri kita dan
itu dapat menjadikan diri kita termotivasi.
Jawaban ibu Farrah atas pertanyaan
beberapa peserta pelatihan:
1.
Dirangkum dari pengalaman penulis yangg
hebat yangg sudah menerbitkan banyak buku dan disukai. Mereka akan menulis yg
betul-betul sesuai dengan renjananya lalu terbiasa menulis (rutin). Pada awal
menulis buku, jangan kita dipusingkan dengan editing & lain-lainnya yang
nanti justru akan menghambat jadinya sebuah naskah. Tapi setelah itu, baru
dilakukan review berulang (dan ini proses panjang). Seringkali bahkan naskah
final sangat berbeda dari naskah awalnya... Kekuatannya di review ini. Untuk ruang pembaca, tujuan kita menulis adalah untuk
dibaca jadi perlu mendengar masukan dari pembaca juga. Tapi jangan sampai kita
juga hanyut menulis hanya untuk memenuhi kebutuhan pembaca, nanti tidak timbul
kebahagiaan.
2.
Banyak buku-buku yang sekarang best seller adalah buku-buku ilmiah tapi
disajikannya dalam bentuk populer tidak penuh dengan data-data yang memusingkan.
Sebaiknya ibu membaca contoh buku-buku populer yang berdasarkan pendekatan
ilmiah. Dari buku-buku ini yang saya perhatikan mereka akan membahas
"Permasalahan" lalu "jawabannya" dengan sedikit-sedikit
memasukkan teori-teori pendukung. Jadi yang dibahas bukan teroinya, ada unsur
emosi kuat yang dibangun sehingga ada konektivitas dengan pembaca.
Beberapa
contoh buku ilmiah dibuat populer (maaf yang terbayang saat ini buku-buku
terjemahan), seperti: Good to Great (penelitian dari 500 perusahaan sukses dunia,
The Miracle of Endorphin (pendekatan psikologis untuk metode pengobatan), The
Leader in Me (praktik-praktik di sekolah yang menerapkan 7 Habit). Bagaimana
menampilkan "voice" pada buku populer atau membangun emosi, misalnya
dengan memasukkan isi wawancara, atau data-data non formal yang lebih hidup.
3.
Tidak sedikit orang yang merasakan kebingungan
menentukan renjana. Memang ada orang-orang yang dari awal sudah tahu apa bidang
menulis yang akan digelutinya dan ada juga yang butuh waktu. Cara paling ampuh
adalah dengan terus menulis, nanti akan kelihatan kecenderungan kita. Bahkan,
dengan mengumpulkan bank tokoh, situasi, pengalaman ke dalam bentuk rekaman
atau tulisan pun nanti akan terlihat apa yang menjadi renjana kita. Kita bisa
lihat dari bank yang sudah kita kumpulkan, apa sih yang menarik untuk kita yang
mendorong kita untuk mengungkapkannya, nah itulah renjana kita. Cara lain
paling mudah mengetahuinya adalah dengan melihat mana tulisan yang paling cepat
saya selesaikan dan kita merasa mudah.
4.
Untuk buku anak, boleh sekali memasukkan
imajinasi ke dalam buku anak. Justru imajinasi itu kekuatan dari buku anak.
Seperti binatang berbicara, anak pergi ke ruang angkasa, berteman dengan robot,
itu adalah imajinasi.
Yang tidak boleh
adalah takhayul dan imajinasi yang mengandung kekekrasan. Saya pribadi
keberatan dengan anak durhaka menjadi batu, siasat membuh raksasa seperti dalam
legenda asal usul Danau Batur, dll. Sikap jahat akan ada akibatnya, dan bisa
dalam bentuk imajinasi tapi sebisa mungkin berkaitan dengan perbuatannya &
tidak berlebihan.
5.
Saya menemukan renjana saya berawal dari
pendidikan saya di Amerika & Jepang yang di mana mereka sangat serius
memikirkan buku anak. Tidak halnya di Indonesia. Sebenarnya ini juga berawal
dari kebutuhan, saat di Jepang anak saya masih TK dan akan kembali ke Indonesia
masuk SD. Jadi saya harus mengajarkan membaca. Saya minta dikirimkan buku-buku
dari Indonesia tapi saya tidak puas. Lalu saya menulis buku sendiri dan
ternyata itu menyenangkan buat saya dan saya merasa bisa memberi solusi pada
permaslaahan yang ada. Selanjutnya
saya juga melakukan penelitian di bidang membaca usia SD, dan salah satu hal
yang dibutuhkan adalah buku anak berkualitas. Di pasar, buku anak berkualitas
itu biasanya harganya mahal. Ini yang menjadi motivasi besar, menciptakan
buku-buku berkualitas dengan harga terjangkau. Ini yang menjadi motivasi terbesar
dan itulah passion saya. Walaupun saya tetap memaksakan diri untuk terus
menulis genre lain. Karena rutinnya saya menulis buku anak dan pendidikan, saya
agak meninggalkan bentuk tulisan ilmiah. Pada saat saya mengalami ini, saya
"memaksa" diri saya untuk mengirimkan rencana penelitian untuk
mendapat beasiswa. Denagn tenggat yang jelas akan jadi motivasi untuk kita. Ini
juga perlu dilakukan. Alhamdulillah dengan research plan yg saya buat, saya bisa
diterima di universitas di Jepang.
6.
Kunci utama menulis dengan melakukan,
maka kita akan menemukan polanya tersendiri. Yang perlu diingat adalah di awal,
tulis dulu apa yang mudah untuk kita, tapi perlu dipaksakan juga agar menjadi
rutinitas. Dengan begitu kita akan sangat terbiasa. Saat ingin dipublish ke
orang lain, maka perlu dilakukan review berulang-ulang. Jangan lakukan review
saat menulis di awal, karena nanti tidak akan jadi karya krn kita berkutat dengan
banyak hal.
7.
Saya membuat buku anak dengan desain
berjenjang di awal. Mulai dari pembaca pemula yang harus penuh dengan gambar.
Untuk ini tentu saya bekerja sama dengan ilustrator. Banyak komunitas-komunitas
ilustrator saat ini, termasuk di medsos. Tapi pada jenjang yang lebih tinggi,
buku anak akan lebih sedikit gambarnya bahkan tidak bergambar (novel anak). Jika
tertarik lebih lanjut, akan ada workshopnya oleh Tangga Edu, silahkan ikuti
media sosialnya IG @tanggaedu & FB Tangga Edu untuk info terkini.
Kesimpulan:
Kita boleh tidak abadi, namun karya
buku kita dapatlah menjadi abadi. Kita dapat menjadi bagian sejarah, meski kita
tidak ikut mengangkat senjata melawan penjajah, buku-buku kitalah yang akan
berbicara. Bagaimana meninggalkan jejak nama kita ke dalam sejarah, tentu saja kita dapat memulainya dengan rumusan 4 R dari
ibu Farrah, yaitu Renjana, Rutin, Review
dan Ruang bagi pembaca.

ayo belajar menulis buku anak
ReplyDelete