Ilmu Baru … Lagi… dan Lagi …


RESUME PELATIHAN MENULIS ONLINE GELOMBANG 10

Pertemuan 6   : Senin, 4 Mei 2020
Waktu             : 13.00-15.00 WIB
Pemateri         : Ukim Komarudin
Topik              : Pengalaman Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor
Peresume        : Beni Setyorini
Pengantar        : Bapak Wijaya Kusumah
Pemandu         : Bapak Bambang Purwanto


Ilmu Baru … Lagi… dan Lagi …

            Hari ini adalah hari pertama di minggu ke-dua pelaksanaan pelatihan menulis yang dipandu oleh para master PGRI, saya tak sabar menanti pengalaman luar biasa dari pemateri hari ini, seperti hari-hari sebelumnya OmJay menyapa hangat seluruh peserta dengan mempersilahkan Mr. BamS menjadi moderator jalannya pelatihan pada kali ini. Menarik sekali pelatihan di sini, suasana akrab, ringan, dan santai sangat kental dengan cara beliau-beliau dipanggil, jarang saya jumpai panggilan-panggilan ‘sayang’ seperti ini ada dalam forum resmi seperti ini. Mr. BamS memperkenalkan pemateri kita dengan panggilan yang akrab juga, yaitu Om Ukim.

            Bapak Ukim mengawali materi dengan menyapa hangat seluruh peserta, bahkan memohon maaf terlebih dahulu juga atas ilmunya yang masih beliau anggap biasa saja. Menurut saya pribadi, tentu saja tidak, pihak panitia tentu sudah memilih orang-orang hebat yang menebar energi positif yang kaya ilmu di forum ini.

            Bapak Ukim pada awalnya berpikir bahwa menulis merupakan ekspresi pribadi beliau, sehingga menulis dianggap menjadi sarana yang tepat untuk mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya. Beliau tidak pernah khawatir dengan kualitas ataupun trend yang ada di masyarakat, yang penting adalah menulis. Menulis adalah kebutuhan bagi beliau, beliau dapat menemukan sesuatu yang lebih tentang “beliau” sendiri dengan menulis, karena beliau menulis dengan jujur apa adanya.

            Selain itu, beliau juga menulis apa saja, terkait pelajaran, beragam terkait pelajaran, beragam kegiatan berupa proposal, liputan kegiatan yang harus dituliskan di majalah, dan menulis buku harian. Begitu setiap saat diisi oleh menulis. Hingga sampai suatu hari, tulisan-tulisan beliau mulai dilirik orang-orang terdekat, yang dalam hal ini teman-teman guru. Satu dua teman berkomentar bahwa tulisan beliau bagus. Istilah mereka, tulisan beliau emotif, bahasanya mudah dicerna, bahkan dapat dijadikan kultum.

Karena komentar tersebut, beliau mencoba membukukan tulisan-tulisan beliau yang selama ini merekam semua kejadian karena dari kegemaran beliau menuliskannya di buku harian. Ada beragam kejadian, tetapi tema besarnya, yang beliau tuliskan merupakan pelajaran seorang dewasa (guru) dari anak-anak "cerdas" yang menjadi siswanya. Oleh karena tulisan itu beragam kejadian, beragam waktu, dan dari beragam tokoh, maka beliau menuliskan judul buku tersebut, "Menghimpun yang Berserak." Sebuah usaha untuk mengumpulkan segenap mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang sangat bermanfaat bagi beliau, dan juga bermanfaat pula buat orang lain (pembaca).

Bapak Ukim menyampaikan bahwa beliau pernah diinterview terkait dua bagian buku beliau. Pertama, buku bersama yakni buku mata pelajaran. Kedua, buku pribadi beliau, "Menghimpun yang Berserak." Dalam kesempatan interview itulah beliau banyak mendapatkan pengetahuan terkait tips dan trik menerbitkan buku.

Beliau banyak mendapatkan pelajaran menyangkut hal-hal yang tadinya tidak beliau pikirkan. Pelajaran atau informasi itu awalnya, membuat beliau tidak nyaman karena menabrak prinsip menulis beliau. Seperti, apakah ketika beliau menulis buku "menghimpun yang Berserak" ini sudah memperkirakan akan laku di pasaran?" Kalau sudah ada,  apakah buku beliau punya nilai tambah sehingga pembaca melirik dan membeli buku beliau? Untuk kepentingan pasar, apakah beliau bersedia apabila beberapa hal terjadi penyesuaian (diganti)? dst. Terus terang, beliau menyampaikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut, membuat beliau kurang nyaman dengan interview itu. Beliau merasa diam-diam mulai "dipenjara". “Inikan ekspresi pribadi saya, mengapa orang lain bisa mengatur hal-hal yang sangat privasi? Menyebalkan! Begitu, oleh-oleh pulang dari interview,” ujar beliau.

Dari pengalaman interview tersebut, bapak Ukim cukup lama break menulis, di saat menjernihkan pikiran beliau membagikan kegundahan beliau kepada rekannya dan mendapatkan masukan yang supportif, supaya beliau menulis bersama tim dan menulis yang bermanfat untuk orang banyak, bukan untuk diri beliau sendiri.

            Beliau akhirnya mencerna masukkan teman beliau dan beliau tersadar mendapatkan ilmu pengetahuan lebih ketika teman beliau menjelaskan tentang tim yang akan menyebabkan karya bapak Ukim dapat dinikmati orang banyak. Orang yang menanyai beliau itu mungkin editor. sebab, editor adalah garda depan yang menentukan naskah itu layak diterbitkan atau sebaliknya. Menurut teman beliau itu, naskah bapak Ukim punya potensi atau "layak" untuk diterbitkan, tetapi sebagai pemula, karya beliau memang harus dipoles di sana sini.

            Bapak Ukim mendapatkan paparan dari teman beliau bahwa, jika nanti naskah itu bisa melewati editor, maka proses "menjadi" memang mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul, ilustrasi, photo jika diperlukan, tata letak, dan lainnya. Yang jelas, semuanya merupakan tim beliau. Kasarnya, semuanya akan menyukseskan beliau, begitu teman bapak Ukim meyakinkan beliau kala itu.

Dari pembicaraan tersebut bapak Ukim menindaklanjuti pertemuan dengan penerbit. Selain hal-hal yang umum tentang buku mata pelajaran yang ditulis bersama, beliau mengkhususkan pikiran ke buku "Menghimpun yang berserak". Yang menenangkan, editor menceritakan bahwa semua hal menyangkut buku beliau selalu dalam konfirmasi. Artinya, semuanya akan terjadi jika beliau setuju.

Demikianlah bapak Ukim menjelani proses, hingga akhirnya ada proses sebelum naik cetak,  yang sangat penting dalam proses kreatif beliau, yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa dicetak. Beliau gembira sekali menerima buku tersebut dengan rasa sangat gembira, hingga melakukan hal yang menurut beliau adalah tindakan gegabah.

Dari serangkaian proses, akhirnya, beliau mendapat konfirmasi ketika mendapat kabar tentang meeting yang terkait dengan terbitnya buku beliau. Pertama, beliau menerima buku pribadi, dengan jumlahnya hanya 5 buku. Buku tersebut berstempel tidak diperjual belikan. Kedua, beliau diajak bicara terkait dengan teknis launching Buku "Menghimpun yang Berserak". Ini soal bagaimana membuat buku beliau laku. Saat itu beliau masih merasa sangat bodoh dan kurang dapat memberikan masukan yang berarti. Ketiga, beliau diberitahu bahwa penerbit menerbitkan jumlah yang diterbitkan pada penerbitan pertama ini dan kurang lebih 6 bulan kemudian baliau baru akan mendapat royaltinya.

       Setelah proses bekerja sama dengan penerbit, peran bapak Ukim kemudian adalah mengusahakan buku buku dapat dinikmati orang lain, dengan memasarkannya saat beliau berkesempatan menjadi pembicara.

Bapak Ukim menanbahkan bahawa ada beberapa kejadian menerbitkan buku kembali, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga yang menjelang terakhir buku, "Arief Rachman Guru", yang semuanya prosesnya mirip dengan proses sebelumnya.


Jawaban bapak Ukim atas beberapa pertanyaan peserta pelatihan:

1.      Ada kriteria yang dianggap layak untuk diterbitkan. Khususnya terkait buku mata pelajaran, biasanya mereka mencari buku: (1) menunjukkan penggunaan pendekatan baru; (2) lebih lengkap; (3) penulisnya memang berkualifikasi luar biasa; (4) Naskah renyah (enak dibaca);  dan diutakan dari hasil penelitian lembaga-lembaga pendidikan terbaik.

2.      Bapak Ukim menyatakan sebagai tipe penulis. Mungkin, lebih banyak buku yang tidak beliau terbitkan daripada yang beliau terbitkan. Beliau memang bukan tipe pandai menjual ide. Beliau senang menulis. Yang menarik buat beliau tulis, ya beliau tulis. Tak peduli tak dilirik penerbit. Tapi Allah maha pengasih. Beberapa sering dilirik penerbit dan jadi berkah buat keluarga.

3.      Semua buku berkesan bagi bapak Ukim. Dia seperti anak beliau. Buku ada yang berkembang dan bermakna bagi masyarakat luas. Ada juga yang diam-diam hanya dibaca sahabat dekat ketika dia terpuruk di sudut kamarnya. Semuanya saya syukuri.

4.      Ketika bertemu penerbit bapak Ukim sudah bawa naskah utuh. Dari naskah itu kita mulai bicara.

5.      Bapak Ukim termasuk orang yang nggak mau belajar tentang gaya ‘selingkung’ menulis. Bisa terkuras energi kita jika memikirkan hal itu. Itu sebabnya, beliau menulis untuk diri saya. Jadi, ketika itu jadi duit, alhamdulillah.

6.      Dalam menulis kita harus menempatkan diri sesuai stamina dan kecenderungan kita. Ada tipe sprinter, maka pilih cerpen. Kalau Marathon, pilih novel. Mungkin bertahap, dari lari jarak pendek karen latihan akhirnya bisa lari jarak jauh.

7.      Ada yang disebut, Premis (tema besar). Biasa terdiri atas satu paragraf. Hebatnya, ia adalah sebuah headline yang memegang pergerakan ide, tokoh, dan alur cerita. Penulis hebat memulia dari itu. Percayalah, jika tidak memulia dari situ, kemungkinannya kalah tenaga, atau ngawur kemana-mana.

8.      Bapak Ukim tipe orang yang sering menyembunyikan karaya jika belum final. Beliau orang teater, lebih suka membuat kejutan dengan membina puncak-puncak cerita, termasuk di sini kelahiran anak (karya) yang mengejutkan.

9.      Permasalahan penulis pemula sering serakah. Jadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, nggak jadi-jadi. Baru satu bab dikoreksi. Baru lima lembar disalahkan sendiri. Ya Ambyar. 
1
 10. Tulis saja, nanti ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan akhirnya editor. Jika mereka menganggap tulisan kita nggal laku di pasaran, tapi kita bilang itu bagus tak apa. Ada suatu masa yang dikatakan banyak orang jelek, saat itu malah dicari dan dibenarkan orang.

11.  Mulailah menulis dengan membaca buku-buku yang diduga akan mirip ekspresi bentukannya seperti buku yang akan kita buat. Ketika kita datang ke perpustakaan atau toko buku, kita membaca untuk mendapatkan inspirasi.
12.   Tentang meyakinkan diri sendiri dalam menulis, memang dimulai dari kita dahulu, kalau kita kurang yakin, celakanya pembaca juga demikian. Mulailah banyak membaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat kita. Dari situ, kita punya standar sendiri.


Kesimpulan:
Menulis ternyata dapat dipupuk dengan menuliskan apa saja, sesuai dengan pengalaman kita, bahkan bisa dari buku diary kita, namun ternyata menulis juga butuh semacam partnership baik itu tim, editor, dan penerbit, agar tulisan kita dapat lebih bermanfaat bagi orang lain, tidak berhenti hanya untuk diri kita sendiri,. Selain itu, kita harus terus banyak membaca sebagai referensi kita dan juga mengasah keyakinan diri kita.

Comments

Popular posts from this blog

Pacu Motivasimu Menulis Buku, Prestasi Ada di Genggamanmu

Pantang ambyar di dalam Kesibukan

Mengenal Genre Kita Untuk Menjadi Karya