Pacu Motivasimu Menulis Buku, Prestasi Ada di Genggamanmu


RESUME PELATIHAN MENULIS ONLINE GELOMBANG 10

Pertemuan 9    : Kamis, 7 Mei 2020

Waktu             : 13.00-15.00 WIB

Pemateri          : Dr. Imron Rosidi, S.Pd, M.Pd

Topik               : Motivasi Menulis Buku dan Berprestasi

Peresume         : Beni Setyorini

Pengantar        : Bapak Wijaya Kusumah

 


Pemateri pelatihan kali ini adalah sosok yang menorehkan begitu banyak prestasi di bidang literasi, ada sekitar belasan kejuaraan yang telah ia menangkan, baik di tingkat lokal hingga internasional. Pria yang memiliki hobi membaca, menulis dan pencak silat ini, saat ini menjabat sebagai pengurus PGRI kota Pasuruan.

“Saat ini marilah kita memotivasi diri untuk menjadi guru penulis. Guru yg visioner,” demikian bapak Imron memberi motivasi di awal pembukaan pelatihan. Sebenarnya tidak ada orang tidak bisa menulis buku. Yang ada adalah orang yang tidak mau menulis buku. Mengapa demikian? Karena menulis itu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Kita semua punya itu. Berarti pastilah bisa menulis. Mengapa seseorang bisa dengan lancar berbicara? Setiap bertemu langsung berbicara tanpa mikir. Tapi ketika menulis? Padahal keduanya sama, yaitu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Apa bedanya? Mungkin ada yg mengatakan, kalau menulis khan mikir kalimat yang baku, tanda baca, huruf kapital. Kalau berbicara khan tidak. Makanya ketika kita menulis tidak perlu mikir itu. Nulis saja, menulislah dengan jelek dan jangan takut salah. Menulis itu hanya 4 syaratnya, yaitu mau, tekun, nekat, dan baca.

Mengapa guru tidak menulis, ada 2 jawaban: 1. Belum menemukan alasan mengapa harus menulis dan 2. Tidak tahu cara menulis. Nah di sini kita perlu mengetahui alasan menulis dan cara menulis. Ingat, menulislah dengan jelek dan jangan takut salah. Sebab, orang yang tidak pernah salah hanyalah orang yang tidak pernah berbuat apa-apa. Menulis itu keterampilan, maka harus terus berlatih, berlatih menulis, bukan dipelajari. Sebagaimana pemain sepal bola, dia harus terus berlatih, tetapi dia juga perlu vitamin. Apa vitaminnya seorang penulis? Ya buku-buku tentang teori menulis dan hal-hal lain yg berhubungan dengan menulis. Biarlah tulisan kita awalnya tidak terlalu bagus. Yakinlah dengan terus berlatih akan ada peningkatan, dari segi kedalaman konten maupun bahasa. Pengalaman bapak Imam menulis buku, diawali dengan menulis LKS. Dari LKS ini justru ia mendapatkan semuanya. Itu dulu karena dulu LKS wajib dimiliki siswa. Setelah itu ia menulis buku-buku umum untuk dilombakan di tingkat nasional. Alhamdulillah ia dua kali juara nasional. Selanjutnya ia menulis buku pelajaran dan sekarang aktif menulis buku perkuliahan dan umum. Untuk itu kita bisa mengawali menulis buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen, lalu berlanjut ke buku umum, atau buku-buku motivasi dan buku pelajaran.

Dari slide power point yang dibagikan oleh bapak Imron Rosidi, ia mengajak kita untuk mencanangkan sebuah gerakan, yaitu ‘gerakan satu tahun satu buku’, ini sangat menarik untuk kita coba tentunya, setidaknya kita konsisten berkarya meski hanya satu tahun sekali. Menulis buku non-fiksi dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal berikut ini:

1.      Bacalah beberapa buku untuk menentukan layout buku dan gaya beberapa penulis.

2.      Buatlah judul dan kerangka buku.

3.      Kumpulkan berbagai literatur yang mendukung.

4.      Lakukan pendalaman materi dengan 3 P ‘Paper-Person-Place’

Person bermakna kita harus banyak berdiskusi dengan orang-orang yang mengerti dengan apa yg akan kita tulis, 2. Paper kita hendaknya membeli buku-buku yang sesuai dengan yang akan kita tulis dan 3. Place, kita seyogyanya mendatangi tempat yang akan kita tulis

5.      Mulailah menulis dari bab yang sudah dikuasai.

6.      Apabila terjadi kemandekan, lakukan lagi pendalaman materi.

7.      Menulislah dengan tidak takut salah.

8.      Setelah selesai, lakukan editing dari segi bahasa dan tanda baca.

9.      Terbitkan.

 

Kita dapat menentukan jenis buku yang mau kita tulis apakah buku pelajaran, antologi cerpen, antologi puisi, novel, buku agama, buku pendidikan, buku motivasi dan buku umum atau remaja. Sedangkan untuk penerbitan buku, kita bisa memilih apakah menggunakan major publishing atau self publishing atau jalan putus, kedua jalur penerbitan itu tentu memiliki keunggulan dan juga kelemahannya masing-masing.

 

Jawaban dari pertanyaan beberapa peserta pelatihan:

1.      Kalau menulis buku dan digemari penerbit (buku umum) ya menulis hal-hal yang saat ini sudah hit, agar digemari siswa milenial. Mungkin tulisan tentang kiat belajar di rumah di saat pandemi virus corona lebih menarik. Atau tulisan yang berisi pengalaman orang-orang sukses, bagaimana saat dia menjadi siswa juga menarik. Dicoba saja, jangan takut jelek dan tidak laku.

2.      Antara otak kita yg berjalan lancar dengan tangan kita yg mengetik, jauh lebih cepat otak kita. Waktu menulis anggaplah sedang berbicara, kalau ada yang salah saat mengetik, mungkin salah huruf, kurang huruf, kalimatnya kurang baik, biarkan saja. Terus menulis jangan takut salah. Setelah dianggap selesai, mungkin  4 sampai dengan 6 paragraf. Dibaca lagi sambil membenahi yang salah.

3.      Masalah kemandegan, belum selesai berhenti, itu karena kurangnya motivasi dalam.menulis. Kalau menulis artikel populer, cerpen, puisi harusnya sekali duduk bisa selesai. Makanya sebelum menulis, penuhi dulu wawasan kita tentang apa yang akan ditulis.

4.      Biasanya penerbit major tidak menerbitkan buku antologi yang keroyokan. Sebagai penulis pemula, ke penerbit indie atau menerbitkan sendiri dulu. Artinya dengan biaya sendiri, nanti kalau dirasa tulisan kita bagus, baru kirim ke major. Ingat lihat visi penerbit.

5.      Seorang penulis itu harus selalu mempersejatai dengan sebuah pena. Sekarang bisa dengan gawai untuk mencatat ide yg muncul tiba-tiba, tidak boleh ditunda.

6.      Tentukan mau menulis apa, tulis dalam bentuk yg paling sederhana, artikel popular misalnya, ini hanya 3 sampai 5 halaman. Baca terus dan kirim ke majalah atau surat kabar, misal ke radar dulu. Satu kali terbit maka nama kita akan dicatat oleh tim redaktur.

7.      Gairah dan motivasi keduanya sejoli dan berjodoh. Ketika ada motivasi aku harus nulis agar siswaku bangga, saat itu bisa muncul gairah. Gairah ini akan terus bertambah ketika tulisan kita terbit. Waduh, akhirnya terus menulis dan menulis.

8.      Hanya cerita. Saya punya saudara guru SD di sebuah pulau terpencil. Satu buku selesai dan diterbitkan sendiri. Banyak orang beri apresiasi. Akhirnya dia tambah bergairah untuk menghasilkan buku-buku selanjutnya.

9.      Yang penting orientasi kita menulis adalah untuk berbagi ilmu, itu dulu. Untuk naik pangkat adalah buku pendidikan dan pembelajaran dan buku pelajaran. Ini yang bisa dinilai.

10.  Saat ini saya akan menulis buku MEWUJUDKAN SEKOLAH PARA PENELITI. Saya penuhi meja saya dengan buku-buku penelitian dan buku-buku tentang pengelolaan sekolah. Seorang penulis hrs memiliki segudang buku.

 

 

Kesimpulan:

Motivasi menulis memang harus kita pupuk hingga kita terus bergairah untuk menulis apa saja, dengan mempersenjatai diri dengan banyak membaca dan praktik menulis dan sampai dengan membuka wawasan tentang berbagai jenis tulisan, sehingga buku yang kita tulis layak kita terbitkan pada akhirnya.

 


Comments

  1. Finally, rangkuman nya selesai juga, good job.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... terima kasih 😊🙏🏽

      Delete
  2. Replies
    1. Semangat!!!... terima kasih semangatnya 😊🙏🏽

      Delete
  3. Visit juga ke blog saya y untuk sharing ilmu : https://naniku2020.blogspot.com/2020/05/motivasi-menulis-buku-dan-berprestasi.html

    ReplyDelete
  4. Semangat Yuk Menulis buku dan terbitkan

    https://kepalasekolahdanbisnis.wordpress.com/2020/05/07/yuk-menulis-buku-anak-pesantren-aja-bisa-kenapa-guru-tidak/

    http://usmanalamsyah.blogspot.com/2020/05/yuk-menulis-buku-anak-pesantren-aja.html

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pantang ambyar di dalam Kesibukan

Mengenal Genre Kita Untuk Menjadi Karya